Minggu, 02 Mei 2010

NASEHAT


SAJAK NASEHAT

(R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.)


Jangan main jalanan becek

Nanti namamu tercemar

Jangan saling menjauh diri

Karena kita menggenggam sholat

Yang nyuruh bersahabat


TUHAN LAGI SENDIRI

(R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.)


Jika aku hengkang kelak

Jangan kalian menata gelisah

Karangan bunga. Rawatlah komputer

Buku-buku, dispenser dan rak baju jangan

Sampai mati

Isyarat yang kuterima dari daun senja

Penaku bergerak ke segala cara

Menabur jala dimana tuhan biasa bersahaja

Wajahnya bergayut dibilik mata

Memantapkan dogma airmata yang

Dicipta sembunyi-sembunyi

Di atap-atap etalase, masjid dan gereja runtuh

Kuhangatkan cuaca dengan bergurau ditepi matahari

Dan di ruang-ruang gelap kutatap mata tuhan yang

Lagi sendiri


Eufoni Hidup

(RA. Syukuri Nikmah, M.Si.)

Hidup itu tak jauh dari secangkir kopi

Ada rasa manis semacam gula

Bercampur pahit dalam bubuk kopi


Rindu itu laksana hidup dipadang pasir

Mengharap setetes air

Untuk mengobati perih dan benih luka


Cinta itu bagai salju turun

Indah dipandang namun kadang

Menabur belasungkawa


Aku hidup diantara cinta dan dosa

Aku rindu ditengah permata dan aura murka

Tapi aku ingin cinta selalu hidup penuh rindu

Rabu, 21 April 2010

HARI KARTINI

RA. Kartini

Oleh:

R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.


Surat yang kau kirimkan tersusun rapi

Seperti kendaraan yang hendak mengantarkan sebuah mimpi

Bahasanya adalah hati yang prihatin


Bertahun-tahun kau tulis prosa

Temanya selalu sama: “habis gelap terbitlah terang”


Apakah sekarang kau masih menulis prosa

Dengan kata-kata didih dan berbisa?


Aku sering memumikanmu dalam novel-novel tua

Juga prosa yang kutulis malam ini

Masih atas jiwamu


Sayang! Meski kususuri prosa demi prosa

Novel-novel tua tak mampu membangkitkanmu

Dalam kalender yang makin celaka



MARSINAH IN MEMORIAM

-catatan kartini modern

Oleh:

R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.


(1)

Suatu saat ornamen patung itu mengajakku

Melibas masa lalunya, jari-jarinya mencengkram

Buruh mendekap angin sedingin salju

Ia tidak pernah berfikir apa kakinya akan bertemu badai

Atau jurang yang ada segumpal harapan ia harus segera

Menang


Pada saat yang lain patung itu tampak kabur dan merana

Suaranya parau menyayat gelisah

Entah apa yang ingin dinyalakan


Aku makin tak mengerti menapa sobekan kertas

Berbaris rapat tepat dibawah kakinya

Kata-katanya tak seragam; keadilan!! Merdeka!!!


Esok harinya bayangnya bergerak

Ke sudut bangunan di pojok itu ia menangis

Bukan airmata, ceceran darah mengalir laksana laut merah

(2)


Kini sepanjang gang patung itu berkeliaran buruh

Kemerdekaannya lamat-lamat rapuh dihisap

Kupu-kupu pabrik


RA.Dewi Sartika


Oleh:

R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.


Engkaukah itu berdiri tegap

Menyediakan huruf alfabeth tuk anak-cucu


Telah kering telaga kami tapi kau tetap juga

Menyiram nurani yang mengalir dari sajak-sajak kartini


Kamilah luka itu

Terjatuh dalam garis kolonialisme


Lihatlah disitu imperialisme tumpang tindih

Hingga kami dipaksa tafakkur dalam wujud kemiskinan