RA. Kartini
Oleh:
R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.
Seperti kendaraan yang hendak mengantarkan sebuah mimpi
Bahasanya adalah hati yang prihatin
Bertahun-tahun kau tulis prosa
Temanya selalu sama: “habis gelap terbitlah terang”
Apakah sekarang kau masih menulis prosa
Dengan kata-kata didih dan berbisa?
Aku sering memumikanmu dalam novel-novel tua
Juga prosa yang kutulis malam ini
Masih atas jiwamu
Sayang! Meski kususuri prosa demi prosa
Novel-novel tua tak mampu membangkitkanmu
Dalam kalender yang makin celaka
MARSINAH IN MEMORIAM
-catatan kartini modern
Oleh:
R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.
(1)
Suatu saat ornamen patung itu mengajakku
Melibas masa lalunya, jari-jarinya mencengkram
Buruh mendekap angin sedingin salju
Ia tidak pernah berfikir apa kakinya akan bertemu badai
Atau jurang yang ada segumpal harapan ia harus segera
Menang
Pada saat yang lain patung itu tampak kabur dan merana
Suaranya parau menyayat gelisah
Entah apa yang ingin dinyalakan
Aku makin tak mengerti menapa sobekan kertas
Berbaris rapat tepat dibawah kakinya
Kata-katanya tak seragam; keadilan!! Merdeka!!!
Esok harinya bayangnya bergerak
Ke sudut bangunan di pojok itu ia menangis
Bukan airmata, ceceran darah mengalir laksana laut merah
(2)
Kini sepanjang gang patung itu berkeliaran buruh
Kemerdekaannya lamat-lamat rapuh dihisap
Kupu-kupu pabrik
RA.Dewi Sartika
Oleh:
R.A. Syukuri Nikmah, M.Si.
Engkaukah itu berdiri tegap
Menyediakan huruf alfabeth tuk anak-cucu
Telah kering telaga kami tapi kau tetap juga
Menyiram nurani yang mengalir dari sajak-sajak kartini
Kamilah luka itu
Terjatuh dalam garis kolonialisme
Lihatlah disitu imperialisme tumpang tindih
Hingga kami dipaksa tafakkur dalam wujud kemiskinan
